TorajaInfoDotCom
SHARE :

Puang Bertuah dari Gunung Sirrang

10
03/2020
Kategori : Cerita Rakyat / Tak Berkategori
Komentar : 0 komentar
Author : chamali


Hari ini keluarga Banua Puang Tandilino’ di Marinding sedang berpesta. Suara batang-batang bambu kecil dihentikan terdengar riuh, ditingkahi teriakan para penari Patiray. Penonton bersuit-suit menyemangati penari Patiray. Para perempuan hilir mudik menyajikan tuak dan makanan dalam gelas-gelas bambu dan piring-piring kayu. Sebagian memasak batang bambu berisi daging babi dan ikan di atas api unggun yang menyala di halaman.

Aroma harum dari daging yang dimasak dalam bambu membangkitkan air liur semua peserta pesta.

Di tengah pesta, Tandilino’ mengangkat gelas bambunya.

“Aku menyebut diriku sebagai orang yang berbahagia. Aku memiliki 9 anak yang kuat dan sehat. Delapan anakku telah pergi membangun negeri baru. Hari ini aku melepas anak bungsuku, Sirrang, untuk mencari tanah baru buat masa depannya. Semoga dia mendapatkan tanah yang subur dan bisa membangun tongkonannya di negeri barunya. Semoga tongkonannya dihiasi istri yang cantik dan anak-anak yang sehat.”

Semua tamu pesta mengangkat gelas tuak mereka dan berseru, “Hidup Sirrang! Hidup Tandilino’ yang akan meluaskan kakinya!”

Di tengah kegemibiraan pesta, Sirrang tampak duduk bersila, tertunduk. Hatinya gelisah. Dia berusaha menyembunyikan rasa takut yang menyelinap.

Ketika orang sibuk makan dan minum, Sirrang pergi dari keramaian pesta. Dia pergi ke rumah pohon kesayanangnya. Tempat dia merasa nyaman selama menjadi anak lelaki Tandilino’. Ibunya membuatkan Sirrang rumah pohon untuk mengenang rumah masa kecil ibunya.

“Sirrang! Mau kemana kamu?” Ibunya memanggilnya dari halaman pesta. Tapi Sirrang tidak menoleh. Dia tetap menaiki tangga tali yang terbuat dari anyaman rotan. Ibunya menyusulnya ke rumah pohon. Di rumah pohon, dilihatnya Sirrang sedang mengumpulkan benda-benda kesayangannya dalam sebuah kantong kulit kayu. Ada kalung manik-manik sisik ikan hasil tangkapannya pertama kali. Ada pisau besi hasil tempaannya. Pisau itu berhiaskan gagang kayu melengkung yang dia ukir sendiri.

“Sirrang, ibu tahu kamu sedih dan takut,” kata ibunya.

“Tapi kamu tak perlu takut. Kamu adalah keturunan Tandilino’ yang berani.”

“Ibu, mengapa ayah tidak menjadikanku pekerja di sawah-nya saja. Aku anak laki-laki yang tersisa di rumah kita. Tenagaku lebih berguna di sini dibanding harus mencari tanah baru.”

“Semua lelaki Tandilino’ melakukan perjalanan mencari negeri baru. Itu peting. Karena jika kamu kelak memiliki istri maka tanah kami tidak cukup untuk menghasilkan beras bagi keluargamu. Kamu harus mencari tanah untuk menanam makanan bagi keluargamu sendiri.” Sirrang menundukkan kepala.

“Aku tidak keberatan menjadi pemuda selamanya. Agar tidak perlu pergi dari rumah ini,” ucap Sirrang lirih nyaris tak terdengar. Ibunya tertawa dan mengajak Sirrang melihat gunung yang mengelilingi rumah mereka.

“Akan tiba saatnya kamu akan lebih suka menjadi seorang lelaki sejati. Pulanglah ke Gunung Burake, tempat asal ibu. Mungkin di sana gunung-gunung akan berbaik hati memberimu tanah untuk tinggal dan berkebun,” kata Ibunya.

“Bawalah benih pada Tandilino’. Tanamlah untuk keluargamu kelak. Maka kamu akan ingat kasih sayang ayah ibumu di sini.”

Menjadi Sahabat Alam

Ayam berkokok menandakan pagi telah tiba. Setiap pagi, suara babi hitam menguik lapar di kandang, membangunkan keluarga Tandilino’ dari tidur lelap. Hari ini Sirrang tidak lagi bertugas memberi makan babi. Dia juga tidak lagi pergi ke sawah ayahnya.

Sirrang bersiap-siap untuk melakukan perjalanan jauh mencari negeri baru. Ibunya telah menyiapkan bekal talas dan ubi ungu bakar. Ubi dan talas itu dikemas dalam kotak yang dianyam dari daun pandan. Tak lupa ibunya membawakan daging dendeng kerbau untuk bekalnya. Sirrang membungkus bekalnya, benih padi, dan barang miliknya dalam kain kulit kayu.

Kain itu diikatnya menjadi buntalan yang diselipkan di sebuah tongkat kayu. Dia siap untuk melakukan perjalanan mencari negeri baru. Ayahnya membuat sebuah parang besi yang dibelinya dari Bone. Parang itu disebut La’bo Pinae. Sirrang menyelipkan prang pemberian ayahnya ke pinggangnya.

“Gunakan parang itu untuk menebang pohon dan membangun tongkonan. Carilah kekuatan dan ilmu sepanjang perjalananmu,” kata Tandilino’.

Sirrang merapatkan kedua tangannya ke dada sebagai hormat kepada ayah ibunya. Ayahnya menepuk pundaknya kuat-kuat, memberikan berkat keselamatan bagi anaknya. Ibunya melepas kepergiannya dengan air mata. Sirrang melambaikan tangan tanda perpisahan. Sirrang berjalan kaki melewati hamparan sawah dan kebun ubi jalar.

Sawah dan kebun itu berakhir di kaki bukit yang ditumbuhi pepohonan besar. Pohon pangi menjulang tinggi dengan buahnya bulat kecoklatan, lebat bergelantungan di sana-sini. Di pohon itu Sirrang sering memanjat untuk mengambil buah pangi. Ibunya memakai daging dan biji pangi untuk bumbu memasak daging atau ikan.

Biji pangi ini lebih sering disebut sebagai pamarassan. Jalanan yang dilalui Sirrang mulai mendaki. Pohon-pohon enau membuat hutan terasa gelap karena daunnya yang lebar menghalangi sinar matahari. Tanah dan dara terasa lembab. Lumut-lumut tebal menempel sepanjang batang enau yang gelap. Sesekali serabut ijuk enau gugur menimpa Sirrang. Sirrang terus berjalan naik turun bukit.

Dia hanya berhenti saat merasa lapar dan haus. Bekalnya telah habis pada hari ketiga. Suatu hari, Sirrang tiba di padang bunga. Dia merasa lapar dan haus setelah setengah hari berjalan. Dia melihat sekelilingnya. Bunga-bunga aneka warna tumbuh di padang itu. Matahari bersinar cerah di langit biru tanpa awan. Lebah dan kupu-kupu hilir mudik dari satu bunga ke bunga lain.

Suara desau angin terdengar merdu. Di tengah padang bunga tampak satu pohon besar. Pohon itu memiliki buah berwarna kuning, bergelantungan menggiurkan. Itulah buah mangga. Warnanya kuning cemerlang seperti cahaya matahari pagi. Air liur Sirrang terbit membayangkan buah mangga yang emput dan segar itu.

Pasti enak dimakan di siang hari yang terik. Sirrang menghampiri pohon mangga. Dia mengulurkan tangnnya untuk mengambil buah dari dahan terendah. Anehnya, dahan itu berkelit menghindar. Sirrang mencoba lagi. Dahan mangga itu berkelit lagi. Sirrang berkacak pinggang.

“Pohon mangga menyebalkan! ada apa denganmu?” teriak Sirrang kesal.

“Hmm, kenapa kamu kesal pada pohon yang bukan milikmu?”

Sirrang terkejut, pohon mangga itu bisa bicara. Dia tersadar atas sikapnya yang tidak sopan. Dia menjawab.

“Aku lapar, aku ingin makan buah mangga.”

“Minta ijinlah saat kamu mengambil buah yang bukan milikmu. Aku akan memberimu asal kamu mengambil secukupnya. Karena mahkluk hutan lainnya juga memerlukan buahku,” kata pohon mangga.

“Baiklah. Ijinkan aku mengambil buahmu karena aku lapar,” kata Sirrang.

“Ambillah!” kata pohon mangga. Sirrang mengulurkan tangnnya ke buah mangga terdekat. Kini dahan pohon mangga tidak berkelit menghindar. Sirrang makan buah mangga yang empuk, segar, dan manis itu.

“Terima kasih, Indo’ Mangga.” Sirrang menundukkan kepalanya dan menaruh tangannya di dada sebagai tanda hormat. Dia minta ijin membawa beberapa buah mangga untuk bekal perjalanan.

Sirrang melanjutkan perjalanan melewati hamparan sawah di lembah. Tak jauh dari sawah itu berdiri tongkonan si pemilik sawah. Sirrang terus berjalan mengikuti arah matahari terbenam.

Sore itu Sirrang tiba di padang batu karang yang tajam. Batu-batu hitam yang kasar dan runcing menyembul dari permukaan tanah di sana sini. Batu-batu itu melukai telapak kaki Sirrang. Pedih sekali rasanya. Sirrang merasa kesakitan. Dia menemukan sebuah batu datar untuk merebahkan dirinya.

Saat merebahkan diri, betapa terkejutnya Sirrang karena batu itu bergerak. Batu itu ternyata naga yang sedang tertidur. Tanpa sempat menyadarinya, naga itu telah membelitnya sangat erat. Sirrang bergulat melepaskan belitan naga. Tubuhnya terbanting-banting di permukaan batuan karang yang tajam. Pergulatan Sirrang dan Naga sampai menimbulkan kilatan-kilatan api di sekeliling mereka.

Tulang tubuh Sirrang serasa remuk dicengkeram belitan naga. Kulit bdang Sirrang robek, tergores batu karang tajam. Sirrang berusaha sekuat tenaga meraih parang yang ada di pinggangnya. Dia berguling agar bisa meraih parang. Ketika ada kesempatan, Sirrang meraih parang dan memotong ekor naga. Naga meraung kesakitan. Sirrang terlepas dari belitan naga. Dia bersiap memotong kepala naga, ketika didengarnya sang naga berkata.

“Aku kalah. Aku akan memberimu kekuatan apiku padamu jika kamu membiarkan aku hidup.”

“Baiklah. Lakukanlah apa yang menurutmu baik. Karena itu aku hanya ingin istirahat dan kamu telah menyerangku.” Jawab Sirrang. Naga menyuruh Sirrang menengadahkan telapak tangannya. Naga menyemburkan apinya ke tangan Sirrang.

Tubuh Sirrang mengejang. Tubuhnya menyala seperti terbakar api.

“Berhati-hatilah terhadap kekuatan apiku. Saat kamu marah tubuhmu bisa mengeluarkan api yang menyambar seperti petir dan mematikan musuhmu.” kata Naga.

“Baiklah,” Sirrang berjanji dengan suara lemah yang tersisa. Dia samar-samar melihat naga itu terbang dan lenyap di langit. Meninggalkan Sirrang sendirian dalam gelapnya malam. Sirrang tergeletak tak sadarkan diri.

Gunung yang Marah

Sinar matahari pagi membangunkan Sirrang. Sirrang mengerjapkan matanya menghindari silaunya cahaya matahari. Dia memicingkan mata dan melihat tebing terjal menjulang tinggi di hadapannya. Gunung Burake. Tempat asal ibunya. Sirrang melihat kulit tubuhnya luka-luka. Akan tetapi, tidak ada tanda dirinya terbakar api semburan naga. Bilah parangnya masih menyisakan darah naga hasil pergumulannya semalam. Sirrang mengangkat parangnya ke arah sinar matahari. Parang itu berpendar kemerahan, sisa darah naga itu perlahan lenyap terhisap besi parang. Sirrang menyelipkan parangnya dengan hati-hati di pinggangnya.

Sirrang mengambil daun sarambu allo yang tumbuh di sela-sela bebatuan karang. Dia menumbuk daun itu dan mengoleskan ke luka-luka kulit badanya. Sirrang meringis menahan pedih tapi Sirrang tetap menempelkan tumbukan daun obat itu ke lukanya.

Dulu ibunya sering membubuhkan tumbukan daun sarambu allo saat Sirrang terluka. Daun itu manjur meskipun rasanya pedih sekali.

Sirrang mencari talas liar untuk dimakan. Dia membuat api untuk membakar talas. Dia menemukan sarang lebah yang penuh madu di pohon kemiri. Dia minta madu sedikit pada lebah yang sibuk hilir mudik di sarangnya menyimpan sari bunga. Talas dan madu berhasil memulihkan tenaga Sirrang. Sirrang merasa siap untuk melanjutkan perjalanan kembali. Memanjat tebing gunung yang berdiri tegak lurus di depannya. Gunung Burake, tempat ibunya berasal.

Dengan kekuatan jari jemarinya, Sirrang merambat di sepanjang tebing. Jarinya terasa kaku menahan berat tubuhnya. Kakinya hanya bertumpu di secuil pihakan di dinding tebing. Sirrang kelelahan ketika tiba di puncak gunung Burake. Sayangnya, ternyata puncak gunung Burake gersang, berbatu karang, tanpa tanah. Gunung Buraka adalah gugusan empat gunung karang yang berdiri tegak lurus, berdampingan. Gunung-gunung karang itu seolah-olah muncul tiba-tiba dari permukaan Bumi di masa lampau. Sirrang kecewa. Dia berseru marah , “Burake hanya inikah yang kau berikan kepada anak Tandilino’. Batu karang gersang tanpa tanah untuk kutanam. Kamu tak menghargaiku sebagai keturunan Burake.”

Hhhhrrr….. Gunung tempat Sirrang berdiri tiba-tiba bergetar. Sirrang terhempas. Dia melihat salah satu gunung di depannya bersuara.

“Anak Tandilino’ dan Puang Burake. Apa hakmu menuntut aku memberi tanah padamu. Kamu hanya bisa mengeluh tanpa bisa melihat apa yang kami miliki. Bukalah matamu baik-baik maka kamu akan tahu. Kamu berdiri di gunung yang kaya.”

Sirrang ketakutan.

“Maafkan aku, Nene’ Gunung. Aku memang tidak melihat apa yang kamu miliki.”

“Lihatlah sekelilingmu baik-baik sebelum kamu mengeluh,” kata Gunung.

Sirrang melihat sekelilingnya. Dia melihat sebagian batu Gunung Burake hitam kelam seperti arang. Lumut tumbuh di batuan.

Di sela-sela lumut, kadang muncul kristal yang berkilau saat tertipa sinar matahari. Di dinding batu karang yang terjal, tanaman sukulen hidup seperti taman di dinding. Gunung Burake mirip taman dinding yang dihiasi batu berkilau saat tertimpa sinar matahari. Sirrang baru menyadari keajaiban Gunung Burake. Ternyata, meskipun hanya berupa batu cadas, Gunung Burake tetap memberi kehidupan.

“Karena kamu sudah marah kepada kami, maka kami tidak bisa menermimamu tinggal di gunung kami,” kata Gunung. Kami akan memberimu tempat tak jauh dari gunung ibumu. Sebuah gunung yang ditunjukkan oleh Bintang Timur. Pergilah mengikuti arah Bintang Timur. Saat Bintang Timur lenyap, tanah kamu berdiri itulah tanah milikmu.”

“Baiklah. Terima kasih Nene’ Gunung Burake.”

Sirrang menunggu malamtiba. Dia menunggu Bintang Timur muncul. Ketika lewat tengah malam, Bintang Timur itu muncul. Sirrang bergegas berjalan mengikuti arah Bintang Timur. Kadang dia harus melompat jurang. Kadang dia perlu berayun dengan akar rotan untuk mempercepat langkahnya. agat tidak terhambat semak belukar. Bahkan, dia harus merangkak di sela-sela tanaman berduri.

Sirrang mendaki bukit berbatu kapur tajam tanpa alas kaki. Anehnya, sejak berkelahi dengan naga, kini kulit dan telapak kaki Sirrang tidak robek tersayat tajamnya duri dan batu karang.

Sirrang juga mendapati dirinya dapat berlari secepat angin.

Bintang Timur makin rendah di kaki langit ketika fajar siap menyingsing. Cahayanya meredup ketika semburan cahaya matahari pagi mulai muncul di kaki langit. Sirrang tiba di sebuah puncak gunung saat Bintang Timur lenyap. Cahaya matahari pagi perlahan menghapus kabut. Di hadapan Sirrang terhampar puncak lima gunung. Gunung Kaero, Gunung Asah, Gunung, Kandora, Gunung Sikolong, Gunung Pangumpak.

Gunung tempat dia berdiri memiliki lereng yang landai. Teras-teras dari batu karang tampak beriring-iring seperti tangga purba yang menyimpan tanah yang subur. Ada gua-gua yang memiliki kolam air tawar. Air tawar itu terseimpan di dalam gunung kapur, setelah air hujan merembes melalui pori-pori batu kapur di permukaan gunung.

Di lereng terbawah, pepohonan enau, pangi, kelapa, kemiri, kayu hitam tumbuh subur. Terdapat lembah kecil yang dipenuhi belukar berbunga. Lembah itu dapat kugunakan sebagai sawah atau kebun, kata Sirrang dalam hati. Sirrang gembira akhirnya dia menemukan negeri baru bagi dirinya.

Sirrang lalu berteriak lantang di atas gunung, “Kunamai gunung tempatku beridiri ini sebagai Gunung Sirrang. Batas Lea milikku adalah Gunung Burake di Sebelah Barat. Rante dan Panglion di sebelah Selatan. Landotenge’ dan Batu Tedong di Utara. Jika kalian masuk wilayahku tanpa ijin, aku akan menyambar kalian dengan petir.”

Suara Sirrang terdengar sampai Gunung Kandora, Sangalla’, dan Sa’dan di Toraja Utara. Sejak itu orang tahu Sirrang adalah penguasa Lea.

Dangle dan Kolam Batu Kapur

Sirrang telah mendirikan tongkonan lengkap dengan lumbung padi miliknya. Dia menanam benih padi pemberian ibunya di teras-teras batu dekat rumahnya. Dia juga menanam benih kacang pemberian ibunya. Setiap pagi Sirrang menyiram benih padi dan kacangnya dengan air dari kolam di gua batu. Dia membawa air itu dengan ember batang bambu. Sinar matahari, udara, air, dan tanah gunung menyuburkan padi dan kacang yang ditanam Sirrang.

Setiap pagi, saat Sirrang membuka pintu rumah tongkonannya, suara derit pintu kayunya terdengar sampai Gunung Kandora, Sangalla’, dan Sa’dan di Toraja Utara. Itulah tanda Sirrang sudah bangun pagi.

Suatu pagi, Sirrang melihat cahaya berkilauan di sebuah batu kapur besar di lereng gunungnya. Sirrang tahu di batu kapur besar itu ada kolam air jernih yang indah. Sirrang khawatir sesuatu sedang terjadi dengan kolam air miliknya. Sirrang bergegas menuruni lereng gunung untuk mencari tahu cahaya apa gerangan.

Saat Sirrang sampai batu kapur besar itu, cahaya itu lenyap. Sirrang penasaran. Dia menunggu, berharap cahaya itu muncul kembali. Sampai malam tiba, cahaya itu tidak muncul. Sirrang memutuskan bermalam untuk berjaga-jaga di batu kapur itu. Dia tidur di atas batu kampur beratapkan langit bertabur bintang dan cahaya bulan purnama.

Ketika ayam berkokok, Sirrang buru-buru bangun dan mengawasi kola air di batu kapur miliknya. Cahaya matahari pagi yang keemasan mulai menerobos sela-sela daun bambu yang tumbuh tak jauh dari batu kapur.

Cahaya matahari pagi yang keemasan mulai bergeser menerpa batu kapu. Cahaya berkilauan dipantulkan permukaan kolam air yang jernih. Tanpa diketahui darimana datangnya, seorang gadis berambut panjang tampak turun ke kolam air batu kapur itu.

Rambut gadis itu panjang sekali sampai menyapu tanah. Tubuhnya bercahaya. Dia masuk ke air kolam dan menjumputi udang-udang emas yang berenang di air itu semudah tangannya menjumputi rumput di ladang. Gadis itu bercakap-cakap dengan udang yang diambilnya. Parasnya cantik saat tertawa melihat udang yang lepas dari tangannya.

“Kenapa kamu tidak mau kutangkap, Udang Emas? Kau tahu ini sudah purnama ke sembilan. Negeri cahayan memintamu untuk menghiasi kola kami, ” katanya sambil tertawa kepada udang emas yang tak mau ditangkap. Setiap dia tertawa, cahaya di tubuhnya berpendar semakin berkilau. Sirrang keluar dari tempat persembunyiannya. Dia berseru, “Kamu mencuri udangku. Kamu telah masuk wilayahku tanpa ijin.”

Gadis itu terkejut. Cahaya di tubuhnya langsung meredup dan lenyap. Kerangjangnya terlepas dari tangannya dan udang itu berhamburan berenang kembali ke air kolam. Gadis itu menangis sesengukan.

“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu menangis. Kamu telah masuk wilayahku tanpa ijin dan mengambil udang emas di kolam air milikku,” kata Sirrang menyesal karena telah menyebabkan gadis di hadapannya menangis.

“Huhuhu… Aku minta maaf. Huhuhu… Aku sedih. Malang bagiku jika bertemu manusia.” Gadis itu terduduk dan menangis terisak.

“Siapa namamu? Mengapa malang bagimu jika bertemu manusia?” tanya Sirrang ingin tahu.

“Namaku Embun di Dangle. Aku tak bisa kembali ke negeri asalku, negeri Cahaya, jika bertemu manusia,” isaknya.

“Kamu tak perlu khawatir. Kamu bisa tinggal di rumahku dan menjadi istriku,” kata Sirrang.

Gadis itu setuju menjadi istri Sirrang. Sejak itu Embun di Dangle menjadi istri Sirrang. Mereka tinggal di Tongkonan di atas Gunung Sirrang.

Ternyata, Embun di Dangle juga bisa bahagia meskipun tidak dapat kembali ke Negeri Cahaya. Sirrang dan Embun di Dangle hidup sejahtera dikaruniai 5 anak, yaitu Sayo, Arring, Sarunna atau Malulun Sanda, Patobok, dan Sippan.

Seumur hidupnya, Sirrang dikenal arif dan bijaksana. Dia dapat mempersatukan suku-suku yang tinggal di sekitar Gunung Sirrang, yaitu Suku Makale, Mandetek, dan Sangalla’.

Embun di Dangle dikenal bisa mendengar bisikan rahasia yang dilakukan di tempat tersembunyi. Istri Sirrang yang cantik itu, juga dapat melihat bahaya melalui mimpinya. Sirrang dan Embun di Dangle dijuluki sebagai Puang Bertuah atau bangsawan sakti dari Gunung Sirrang.

Penulis: Johanna Ernawati

Sumber: Kantor Arsip dan Perpustakaan, Tana Toraja.

Please follow and like us:

Berita Lainnya



Tinggalkan Komentar

Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial