TorajaInfoDotCom
SHARE :

Tiga Batu Buntu Burake

9
03/2020
Kategori : Cerita Rakyat / Tak Berkategori
Komentar : 0 komentar
Author : chamali


Negeri Gunung Batu

Di pedalaman Sulawesi terdapat negeri yang dikelilingi gunung-gunung batu berkapur. Orang-orang pantai di Sulawesi menyebutnya daerah gunung-gunung batu itu sebagai Tana Toraja, negeri orang yang tinggal di gunung.

Gunung-gunung batu atau buntu di Tana Toraja berdiri tegak, seperti benteng kokoh sejak zaman dahulu kala. Di antara gunung batu tersebut terhampar lembah-lembah kecil yang subur ditanamai padi atau pare. Selama musim hujan, daun-daun padi menghijau subur, berayun-ayun ditiup angin. Burung-burung pipit terbang hilir mudik, berusaha mematuk ulat dan serangga yang bersembunyi di ketiak daun padi. Di tiap petak sawah hijau itu selalu tersedia kolam bulat, berisi ikan mas yang gendut-gendut. Ikan mas ini adalah sumber makanan orang Toraja saat bekerja di sawah.

Salah satu lembah paling subur di Tana Toraja adalah lembah Tongkonan Burake. Tongkonan Burake adalah sebuah desa yang terdiri dari sejumlah rumah atau tongkonan yang dikelilingi gunung batu atau Buntu Burake.

Rumah-ruma di Tongkonan Burake dibangun di atas bukit. Tanah landai sangat langka di Tongkonan Burake, sehingga tidak jarang bukit harus diratakan aar dapat membangun rumah atau tongkonan. Rumah-rumah di Tongkonan Burake saling berjauhan. Untuk mengunjungi rumah lain, orang Tongkonan Burake naik turun bukti melewati jalan setapak, yang dibuat dari pecahan batu kapur. Jalan setapak itu melewati kerimbunan hutan bambu, buangai, enau, dan pamarassan.

Padi yang Sangat Berharga

Penduduk Tongkonan Burake hidup makmur, tidak pernah kelaparan, berkat padi yang tumbuh subur dan ikan mas yang berlimpa. Padi sangat penting bagi penduduk Tongkonan Burake karena padi diperlukan untuk berbagai pesta dan ritual adat yang diselenggarakan sepanjang tahun. Misalnya, ritual awal menyemai benih padi, menanam padi, membersihkan saluran air, padi menguning, memanen padi, kelahiran, pernikahan, dan kematian.

Hasil panen padi yang berharga disimpan dengan cermat di lumbung padi atau alang agar padi selalu tersedia untuk berbagai pesta dan ritual. Sehari-hari orang Tongkonan Burake makan ubi, talas dan pisang yang tersedia berlimpah di setiap halaman rumah di Tongkonan Burake. Hanya pemimpin Tongkonan Burake yang makan nasi setiap hari karena pemimpin Tongkonan Burake memiliki banyak lumbung padi.

Pemimpin Tongkonan Burake sangat kaya. Namanya Batu Allo. Istrinya yang cantik bernama Rara Sissi. Batu Allo memiliki sawah yang sangat luas dan kerbaunya banyak sekali. Hanya Batu Allo yang mampu melakukan pesta adat dengan memotong 24 kerbau. Oleh karena itu, Batu Allo dihormati oleh penduduk Tongkonan Burake dan penduduk desa lainnya. Batu Allo memiliki 2 anak lelaku, yang bernama Burake dan Tambolang. Anak-anak Batu Allo terkenal berani dan berilmu. Badannya sangat kuat, suaranya besar. Mereka bertiga adalah pemimpin perang yang disegani.

Perang sering terjadi di masa lalu. Bentang alam Tana Toraja yang bergunung-gunung menyisakan sedikit tanah datar yang bisa ditanami padi. Jika musim kemarau panjang melanda, banyak desa di Tana Toraja kelaparan karena tidak memiliki persediaan padi dan makanan lainnya. Tak jarang, desa yang kelaparan menyerang desa lain yang memiliki simpanan padi. Oleh karena itu, penduduk Tongkonan Burake membangun rumahnya di atas gunung supaya dapat mengawasi hamparan sawahnya dan untuk melindungi diri saat perang. Mereka juga membangun benteng perlindungan di atas gunung untuk melindungi perempuan dan anak-anak saat perang. Benteng perlindungan itu bernama Buntu Tanga.

Air Kehidupan dari Gunung Batu

Setiap tahun penduduk Tongkonan Burake menanam padi Pare Kutu di sawah-sawah yang diairi mata air yang memancar di kaki gunung batu Burake. Airnya berlimpah baik di musim hujan maupun musim kemarau. Penduduk Tongkonan Burake tidak pernah kekurangan air meskipun musim kemarau berlangsung sangat panjang. Mereka percaya mata air berlimpah itu adalah pemberian dewata atau deata yang bersemayam di puncak-puncak gunung batu mengelilingi Tongkonan Burake. Gunung-gunung batu adalah tempat tinggal deata, sehingga gunung batu dianggap suci, terutama gunung batu Buntu Burake. Nenek leluhur Tongkonan Burake telah memindahkan tiga batu raksasa di puncak Buntu Burake sebagai altar persembahan bagi deata. Tiga batu di Buntu Burake tersebut adalah tempat suci untuk memohon hujan saat musim kemarau panjang. Biasanya, deata akan mengirim tanda petir dari Buntu Sundallak, yang bersebelahan dengan Buntu Burake, jika persembahan di tiga batu Buntu Burake diterima.

Padi-padi di Tongkonan Burake tumbuh subur karena diairi mata air yang deras dari Buntu Burake. Orang Tongkonan Burake menyebut sumber air yang deras itu sebagai buisun. Berkat air dari Buntu Burake, sawah-sawah di lembah Tongkonan Burake tidak pernah gagal panen. Air dari Buntu Burake bukan hanya memberi kehidupan bagi tanaman padi namun juga memberi kesenangan bagi kerbau-kerbau kesayangan penduduk Tongkonan Burake saat berendam di sungai-sungai kecil Buntu Burake. Kerbau-kerbau di Tongonan Burake sangat perkasa. Punggung kerbau yang berwarna kelabu dan belang-belang putih sangat kuat saat menarik bajak kayu hilir mudik hingga tanah sawah teraduk sampai gembur. Tanpa kerbau, tak ada tanah sawah yang gembur untuk menghasilkan padi bagi bahan makanan dan ritual adat. Air dari Buntu Burake telah memberi kehidupan dan kesenangan bagi manusia, padi, dan kerbau-kerbau di Tongkonan Burake.

Bintang Nenek Leluhur

Setiap hari penduduk Tongkonan Burake merawat tanaman padi di sawah dengan penuh kasih sayang. Saat musim padi berbunga, anak-anak membuat seruling dari batang padi yang dipanen pada musim yang lalu. Seruling batang padi itu disebut Pelle. Suara Pelle merdu sekali. Ketika padi berbunga anak-anak memainkan Pelle sambil duduk di atas kerbau. Mereka memainkan Pelle agar bunga-bunga padi senang dan berayun-ayun sehingga penyerbukan terjadi dan tanaman padi menghasilkan bulir padi yang penuh berisi.

Penduduk Tongkonan Burake juga membuat persembahan di sudut-sudut sawah agar roh nenek leluhur turun dari langit ke Bumi menjaga keselamatan padi sampai panen. Orang Tongkonan Burake percaya roh nenek leluhur tinggal di bintang-bintang di langit. Biasanya, roh nenek leluhur memberi petunjuk kepada keturunannya di Bumi. Petunjuk itu berupa bintang-bintang sebagai pertanda musim. Setiap orang Tongkonan Burake dapat membaca petunjuk musim yang diberikan nenek leluhur melalui bintang-bintang di langit. Susunan bintang petunjuk musim menanam padi tersebut menyerupai ayam. Selain itu, orang Tongkonan Burake juga percaya, jika seekor ayam jatuh di batu, maka orang Tongkonan Burake juga percaya, jika seekor ayam jatuh di batu, maka itu pertanda musim kemarau panjang akan melanda Tongkonan Burake. Jika seekor ayam jatuh di air, berarti musim hujan segera tiba.

Penduduk Tongkonan Burake memanen padi secara serentak. Panen itu dilakukan dengan gotong royong secara bergiliran. Padi dipotong dengan anai-anai, lalu diikat dan disusun di depan lumbung tongkonan. Tumpukan padi di depa lumbung bisa menjulang tinggi seperti gunung. Selama berhari-hari gunungan padi di depan lumbung, disinari matahari musim kemarau yang panas sampai kering. Jika sudah kering, semua penduduk Tongkonan Burake melakukan ritual Aluk Pare, yaitu ritual yang dilakukan sebelum memasukkan padi ke dalam lumbung.

Di ritual Aluk Pare, setiap keluarga memotong ayam kecil yang kakinya putih dan bulunya merah. Ayam ini disebut Sella. Ayam Sella dimasak tanpa menggunakan bumbu, hanya direbut dengan air. Ayam yang telah dimasak kemudian dipersembahkan kepada deata sebagai sesaji. Ritual kemudian dilanjutkan dengan memasak nasi dan piong (memasak dengan bambu). Para perempuan bertugas memasak nasi, sementara para lelaku membuat piong. Ketika asi sudah matang, para lelaki menata sesaji di atas daun pisang. Sesaji itu terdiri dari nasi, piong, buah siri, daun sirih, buah pinang, kapur, satu gelas bambu kecil berisi air, dan satu gelas bambu berisi tuak atau ballo. Ritual ini disebut Ma’pesung. Sajian Ma’pesung ditata menghadap Utara dan Timur. Semua sajian diletakkan di atas tikar menghadap lumbung dan gunungan padi.

Pesta Ma’ Bua’ Pare

Seluruh penduduk Tongkonan Burake lega dan puas saat melihat lumbung penuh padi. Pemimpin Tongkonan Burake, Batu Allo, memiliki lumbung paling penuh. Sebagai pemilik lumbung terbanyak di Tongkonan Burake, Batu Allo mengadakan ritual tertinggi di Tongkonan Burake, yaitu pesta Ma’ Bua’ Pare.

Saat pesta Ma’ Bua’ Pare, Batu Allo juga menyembelih kerbau banyak sekali, sampai 24 ekor kerbau. Batu Allo memerintahkan untuk mengumpulkan padi dari setiap lumbung di Tongkonan Burake sementara anak-anak sibuk menangkap ayam untuk disembelih. Padi tersebut dikumpulkan di ruah To Parengnge’ untuk ditumbuk dan dimasak. To Parengnge; adalah dewan adat yang bertugas bagi kesejahteraan desa.

Di malam pesta Ma’ Bua’ Pare, semua penduduk Tongkonan Burake berkumpul di halaman rumah Batu Allo sambil menikmati bulan purnama di langit malam. Langit malam terang benderang oleh cahaya bulan purnama. Tak ada bintang kecil yang terlihat. Hanya bintang-bintang besar yang sanggup menandingi terang cahaya bulan purnama yang bulat besar. Bulan purnama yang besar ini biasa disebut sebagai bulan malepong.

Setiap keluarga di Tongkonan Burake membawa tuak untuk diminum. Tuak dituangkan sampai penuh dan diminum sepuasnya. Musik ditabuh dan para perempuan menari-nari dengan gemulai. Anak-anak lelaki mempertontonkan keterampilan beladiri Si Semba’. Semuanya menyanyi dan bertepuk tangan.

Tiga Batu dan Hujan

Bulan telah berganti-ganti bentuk setiap malam. Dari tenggelam, lahir kembali, berubah menjadi bulan sabit Lobo’, hingga menjadi bulan Sampe. Bulan Sampe terjadi empat hari sebelum bulan purnama dan sebenarnya adalah pertanda waktu yang tepat untuk menanam padi. Bulan Sampe biasanya ditandai dengan turunnya hujan. Namun, hingga saat itu hujan belum turun setetes pun padahal sudah memasuki bulan Sampe. Langit masih biru seperti lautan luas dengan sinar matahari yang terik. Tak ada tanda awan putih pembawa hujan.

Batu Allo gelisah dan waspada karena penduduk desa di luar Tongkonan Burake sudah mengeluk kekurangan air. Tanah sawah mereka telah mengering dan merekah selebar betis orang dewasa. Padi mati kekeringan sehingga panen padi gagal. Kelaparan menghantui desa-dea di luar Tongonan Burake. Berbeda dengan desa lain, panen padi di Tongkonan Burake masih berlimpah. Penduduk Tongkonan Burake tidak kelaparan namun kelaparan di desa lain berarti ancaman serangan musuh ke Tongkonan Burake. Lumbung-lumbung Tongkonan Burake yang berlimpah pada adalah godaan bagi desa lain untuk menjarah Tongkonan Burake.

Penduduk desa di luar Tongkonan Burake telah datang kepada Batu Allo minta bantuan. Mereka minta tolong kepada Batu ALlo untuk melakukan ritual permohonan hujan di altar tiga batu Buntu Burake.

“Batu Allo, desamu memiliki adat yang paling tinggi di wilayah ini. Nenek moyangmu telah mendirikan altar tiga batu raksasa yang disukai deata sehingga mereka memberimu mata air berlimpah. Desamu memiliki petugas ritual paling lengkap, mulai dari Indo’ Padang, Indo’ Deata, Indo’ To Dolo, To Mangramba Balao, To Mantanan Sendana, To Massuru Deata, To Ma’tengko, Indo’ Kalo, To Ma’kampa Inan Banne sampai To Ma’tanduk Pesangle. Lumbung padimu paling penuh berisi padi. Hanya engkau yang bisa menyediakan 24 ekor kerbau di setiap pesta Ma’ Bua’ Pare. Tolonglah kami. Lakukanlah ritual permohonan hujan Ma’ pasikemun la’ta kepada Sundallak di puncak Buntu Burake. Agar deata mengirim hujan untuk sawah kami.”

“Aku akan minta To Parengnge’ ntuk menyiapkan semua yang diperlukan untuk ritual Ma’ pasikemun la’ta,” jawab Batu Allo berwibawa. Batu Allo berpaling kepada To Parengnge’ dan memberi perintah.

“Mintalah kepada To Minaa dari Dende’ untuk melakukan ritual meminta hujan kepada Sundallak.” To Minaa adalah pendeta yang memimpin ritual sesuai ajaran nenek leluhur.

“siap, Batu Allo. Akan saya lakukan,” jawab To Parengnge’.

To Parengnge’ mengunjungi To Minaa di Dende. To’ Parengnge’ juga mengunjungi setiap rumah di Tongkonan Burake untuk mengajak setiap warga desa menyiapkan upacara persembahan meminta hujan.

“Kita memiliki nenek leluhur dan deata yang mencintai desa kita. Marilah kita minta kemurahan hati nenek leluhur dan deata Sundallak untuk menurunkan hujan bagi musim kemarau yang panjang ini. Agar desa lainnya dan desa kita selamat,” kata To Parengnge’ kepada penduduk Tongkonan Burake.

“Baiklah. Kami akan menyiapkan persembahan untuk deata.” Jawab seluruh penduduk Tongkonan Burake. Setiap rumah di Tongkonan Burake kemudian memotong ayam. Bulu ayam yang telah dipotong, diselipkan di anyaman keranjang sebagai hiasan. Daging ayamnya dimasak dalam bambu menjadi piong ayam atau piong manuk. Sumur-sumur dibersihkan dari lumut agar siap menampung air hujan yang dikirim deata. Sementara itu, To Minaa memotong babi belang, ayam Sella untuk deata, ayam Rame kaki hitam untuk To Dolo atau leluhur, dan ayam kaki kuning berbulu merah untuk tuan tanah Ampu Padang.

To Minaa kemudian membawa ayam berbulu merah, ayam berbulu putih, dan kepala babi ke altar tiga batu di puncak Burake untuk memohon hujan. Batu Allo naik ke puncak Buntu Burake. Untuk melindungi kesucian Buntu Burake, deata telah menumbuhkan tanaman yang dapat melepuhkan dan menyakiti kulit manusia yang melanggar batas kesucian Buntu Burake. Oleh karena itu, tak ada rakyat Tongkonan Burake yang berani melanggar atau merusak wilayah suci Buntu Burake.

Di puncak Buntu Burake, To Minaa dan Batu Allo menata persembahan di altar tiga batu. Persembahan ayam merah untuk mendatangkan angin topan Talimpuru. Persembahan ayam putih untuk mendatangka awan putih pembawa hujan serta persembahan kepala babi sebagai tanda kerendahan hati memohon hujan. To Minaa dan Batu Allo semalaman berada di puncak tiga batu Buntu Burake, memohon hujan kepada deata Sundallak. Mereka baru turun dari puncak Buntu Burake keesokan paginya.

Ketika Batu Allo dan To Minaa pulang ke Tongkonan Burake, terlihat petir menyambar di Buntu Sundallak. Petir itu juga menyambar persembahan di Puncak Buntu Burake. Penduduk Tongkonan Burake bersorak. Petir adalah tanda deata Sundallak telah menerima persembahan dan permohonan mereka. Bersamaan dengan munculnya api putih di puncak Buntu Burake, angin topan Talimpuru datang menderu-deru diikuti suara petir halilintar. Awan hitam bergulung-gulung di atas puncak Buntu Burake. Tak lama kemudian hujan turun deras sekali. Semua orang bersuka cita menyambut hujan yang memenuhi sumur-sumur mereka dan membasahi sawah lagi.

Kekuatan Tongkonan Burake

Namun bersamaan denga suara petir menggelegar, tanpa diduga, terdengar suara kentongan bersahut-sahutan dari menara pengawas Buntu Tanga. Kentongan itu tidak sembarangan dibuyikan. Kentongan it adalah tanda bahaya serangan musuh.

“Musuh datang menyerang! Musuh datang menyereang!” teriak penjaga menara Buntu Tanga.

“Semua berkumpul di rumah Batu Allo. Kita musyawarah untuk melawan musuh,” perintah To Parengnge’.

“Kumpulkan semua orang pemberani di Tongkonan Burake.”

Batu Allo memimpin musyawarah dan mengatur strategi perang dengan cermat.

“Dari arah mana musuh datang menyerang kita?” tanya Batu Allo kepada pengawas menara.

“Dari arah Timur,” jawab pengawas menara.

“Arah angin saat ini dari Barat. Deata angin di pihak kita. Semua orang sebaiknya menggunakan senjata sumpit beracun. Aku akan menggunakan panah untuk melawan musuh.” ujar Burake.

“Angin Barat akan menguatkan laju anak panah dan peluru racun sumpit. Ungsikan anak-anak dan perempuan ke benteng pertahanan Buntu Tanga. Kita bersembunyi dan bergerilya menyerang musuh di hutan enau. Kita panah buah enau agar getahnya berjatuhan mengenai musuh. Rasa gatal getah enau akan mengacaukan musuh. Kita serang saat musuh kacau,” Tambollang menambahkan strategu Burake.

“Burake, pimpinlah serangan dengan sumpit dan panah. Tambollang kacaukan musuh dengan getah buah enau. Aku sendiri aka menyerang dengan parang La’bo’ Pinnae, parang sakti warisan nenek moyang kita, yang diasah oleh batu besi petir Buntu Burake.” tambah Batu Allo.

“Sebaiknya kita menyerang saat fajar.” sambung Burake dan Tambolang bersamaan.

Para lelaki Tongkonan Burake dengan cepat mengantar anak-anak dan perempuan ke benteng pertahanan Buntu Tanga. Batu Allo menurunkan kekuatan para lelaki Tongkonan Burake untuk melawan musuh terlebih dahulu. Batu Allo mengamati strategi musuh dari atas gunung batu. Ternyata, musuh kali ini sangat tangguh. Para lelaki Tongkonan Burake kewalahan melawan strategi serangan musuh. Dari gunung batu yang tinggi, Batu Allo melihat pasukan Tongkonan Burake kedodoran melawan musuh. Dibutuhkan kekuatan dan keberanian untuk membabat pertahanan musuh langsung dari garis depan.

Batu Allo bergegas turun menyerang lawan di garis depan. Parang saktinya berkelebat secepat angin topan merobohkan musuh. Bersamaan para pemberani, Batu Allo tak kenal lelah merobohkan musuh di garis depan. Pasukan Tongkonan Burake akhirnya berhasil memukul mundur musuh hingga ke batas jurang. Kepala musuh dipenggal sebagai tanda kemenangan dan kekuatan Tongkonan Burake. Musuh yang tersisa tercerai berai melarikan diri. Batu Allo terharu bangga melihat keberanian dan kekuatan para pria Tongkonan Burake.

“Hidup pria Burake yang kuat dan pemberani!” seru Batu Allo bangga.

“Hidup Tongkonan Burake!”

Semua pria pemberani Tongkonan Burake mengacungkan senjata menyambut seruan Batu Allo.

Kabar kekuatan Tongkonan Burake terdengar hingga delapan penjuru mata angin. Desa-desa lain menjadi gentar jika ingin menyerang Tongkonan Burake. Mereka harus berpikir ulang untuk menyerang karena Tongkonan Burake memiliki pria-pria kuat seperti Batu Allo, Burake, dan Tambolang. Desa-desa lain juga percaya Tongkonan Burake kuat karena didukung para deata yang bersemayam di gunung-gunung batu Tongkonan Burake.

Penduduk Tongkonan Burake baru bisa merayakan kemenangan atas serangan musuh setelah masa tanam padi selesai. Pada malam pesta perayaan itu, semua orang Tongkonan Burake melakukan Ma’ bia’ bia’, yaitu menyalakan obor di malam hari dan membawa obor mengelilingi batas wilayah Tongkonan Burake. Mulai dari rumah tongkonan masing-masing, menuju Lapandan, Batupapan, nak ke gunung Tampo, lalu turun ke rumah tongkonan Batu Allo, Sang pemimpin Tongkonan Burake. Api obor yang dibawa berkeliling itu adalah tanda harapan agar deata membentengi sawah, lumbung padi, dan rumah-rumah di Tongkonan Burake. Bersama seluruh penduduk, To Minaa dan Batu Allo mendoakan padi yang telah ditanam agar tumbuh subur dan Tongkonan Burake diberi panen padi yang berlimpah.

Cerita ini ditulis untuk mendokumentasikan tradisi dan cerita rakyat yang dimiliki masyarakat Tana Toraja di wilayah adat Buntu Burake, Buisun, Pantan, Kamali, Limbong, Paku Pentalluan, dan Langda.

Penulis: Johanna Ernawati

Sumber: Kantor Arsip dan Perpustakaan Pemerintah Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

Please follow and like us:

Berita Lainnya



Tinggalkan Komentar

Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial