Tongkonan Tumakke' Papa Batu

Masyarakat adat Tana Toraja menyebut rumah Tongkonan ini dengan nama “Papa Batu”.“Papa” dalam bahasa Toraja berarti atap dan “batu” memiliki makna yang sama yaitu batu.

Rumah adat Tongkonan tertua di Toraja ini terletak sekitar 10 km ke arah Barat dari Tana Toraja atau tepatnya di Desa Banga, Kecamatan Rambon, Tana Toraja.

Ternyata, rumah Tongkonan tertua ini masih dihuni oleh seorang tetua kampung yang bernama nenek Toyang. Ia adalah seorang janda berusia 110 tahun dan merupakan generasi ke 10 yang menghuni Tongkonan tersebut.

Keunikan rumah adat Tongkonan tertua ini sudah nampak jelas pada hampir seluruh bagian rumah adat ini. Misalnya, atapnya terbuat dari batu pahatan yang berjumlah 1000 keping dan masing-masing keping berukuran 5×3 jengkal orang dewasa. Menurut warga sekitar, masing-masing keping batu tersebut berukuran sekitar 10 kg, sehingga berat atap batu tersebut jika ditotal mencapai sekitar 10 ton. Meskipun atapnya sangat berat namun hanya ditopang oleh 55 tiang yang seluruhnya terbuat dari kayu.

Sepanjang sejarahnya, baru dua kali atap rumah Tongkonan diganti, yaitu ketika ada rotan yang terputus dan ketika ada gempa bumi. Ketika memasuki bagian dalamnya, maka kamu bisa melihat ada empat ruang besar di dalam rumah ini.

Sayangnya, karena rumah ini sangat disakralkan, pengunjung hanya bisa melihat ruang utamanya saja. Satu pantangan lainnya yang tak boleh dilanggar oleh pengunjung adalah memasuki rumah tanpa izin. Oleh karena itu, jika kamu ingin memasuki rumah ini maka kamu harus meminta izin kepada nenek Toyang. Pasalnya, jika memasuki Papa Batu tanpa izin, maka orang tersebut akan mendapatkan kemalangan berupa sakit keras dan obatnya hanya dengan meminta maaf kepada nenek Toyang.(https://berita.99.co/keunikan-rumah-adat-tongkonan/)